Jumat, 16 September 2016

Umar bin Abdul Aziz

Khutbah #1

Para jemaah Jumat yg diberkahi Allah SWT,

Syukur Alhamdulillah, di hari Jumat, penghulu segala hari yg berkah ini & di bulan Zulhijjah ini, kita duduk bersimpuh dalam Jumatan siang hari ini u/ bersyukur kehadirat Allah SWT. Shalawat & salam terbesit dari lubuk sukma kita semoga kita sempurnakan keharibaan Baginda Rasulullah SAW. Ketahuilah taqwa adalah sikap penghambaan yg sempurna kehadirat Allah SWT. Mimbar Jumat minggu ini menghimbau diri sang khatib sendiri khususnya & para Jemaah Jumat umumnya supaya menyempurnakan iman & taqwa kehadirat Allah SWT, yakni mematuhi segala titah perintahNya, yg fardhu khususnya & yg sunnah Baginda Rasulullah SAW umumnya serta meninggalkan segala laranganNya, yg haram khususnya & yg makruh umumnya. Titah perintah menyempurnakan iman & taqwa berlaku selama kehidupan kita di dunia ini, dari hari lahir kita ke dunia hingga kita menghembuskan nafas terakhir. Semoga akhir kehidupan kita kelak husnul khatimah. Semoga kita menghembuskan nafas terakhir dengan husnul khatimah.

Fardhu: Bila dikerjakan berpahala, bila ditinggalkan berdosa
Sunnah Baginda Rasulullah SAW: Bila dikerjakan berpahala, bila ditinggalkan tidak berdosa
Haram: Bila dikerjakan berdosa, bila ditinggalkan berpahala
Makruh: Bila dikerjakan tidak berdosa, bila ditinggalkan berpahala

Mimbar Jumat minggu ini menghimbau diri sang khatib sendiri khususnya & para jemaah Jumat umumnya supaya kita menghayati & mengambil i’tibar dari satu tema: “UMAR BIN ABDUL AZIZ”

Para jemaah Jumat yg direstui Allah SWT,

Sesuai dengan nama masjid ini, kita Jumatan minggu ini di Masjid Umar bin Abdul Aziz. Kita akan membahas kehidupan Umar bin Abdul Aziz. Umar bin Abdul Aziz adalah seorang khalifah keturunan Umar bin Khattab. Umar bin Abdul Aziz adalah cicit Umar bin Khattab. Umar bin Abdul Aziz juga dijuluki Amirul Mu’minin seperti buyutnya, Umar bin Khattab. Ini kehidupan double Umar. Umar bin Abdul Aziz disebut juga dengan Umar II, Amirul Mu’minin II. Ayahnya adalah Abdul Aziz bin Marwan. Ibunya adalah Ummu Asim binti Asim. Umar bin Abdul Aziz lahir di Madinah. Umar bin Abdul Aziz dibesarkan di Madinah dibawah bimbingan Ibnu Umar. Umar bin Khattab pernah mendengar percakapan seorang ibu dengan putrinya. Ibu menyuruh putrinya mencampurkan susu dengan air. Putrinya menolak dengan tegas karna patuh kehadirat Allah SWT.

Ibu: “Wahai putriku, campur susu itu dengan air”
Putrinya: “Tidak bu. Amirul mu’minin melarang kita berbuat begitu”
Ibu: “Tidak apa”, nak. Amirul mu’minin tidak tau”
Putrinya: “Amirul mu’minin memang tidak tau tapi Allah SWT Maha Tau”

Sabda Baginda Rasulullah SAW: “Barangsiapa yg menipu, tidak termasuk golonganku”

Tiba di rumah, Umar bin Khattab menyuruh putranya, Asim menikah dengan putri seorang penjual susu. Umar bin Khattab berkata, “Semoga lahir bakal pemimpin Islam yg hebat dari keturunan gadis ini yg akan memimpin Arab & Ajam”. Asim yg patuh, tanpa banyak bicara, langsung menikahi gadis itu. Asim & gadis itu menikah. Kemudian melahirkan seorang putri bernama Laila. Laila dikenal sebagai Ummu Asim. Ummu Asim menikah dengan Abdul Aziz bin Marwan. Abdul Aziz bin Marwan adalah murid Abu Hurairah. Kemudian lahirlah seorang putra bernama Umar bin Abdul Aziz.

Sidang jemaah yg diberkahi Allah SWT,

Umar bin Abdul Aziz adalah sosok khalifah yg sholeh, kharismatik, bijaksana, dekat dengan rakyatnya. Umar bin Abdul Aziz tinggal di Madinah hingga ayahnya menghembuskan nafas terakhir. Kemudian Umar bin Abdul Aziz dipanggil oleh Abdul Malik ke Damaskus & menikah dengan putrinya, Fatimah. Abdul Malik juga menghembuskan nafas terakhir. Tahun 706 Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi gubernur Madinah selama 7 tahun. Umar bin Abdul Aziz membentuk sebuah dewan u/ menjalankan pemerintahan propinsi. Zaman pemerintahan Madinah, keluhan ke Damaskus berkurang. Segala masalah bisa dipecahkan di Madinah. Banyak orang yg migrasi dari Iraq ke Madinah. Imigran Iraq mencari perlindungan dari seorang gubernur yg kejam, Al Hajjaj bin Yusuf. Al Hajjaj bin Yusuf menekan Al Walid I supaya memberhentikan Umar bin Abdul Aziz dari jabatan khalifah. Umar bin Abdul Aziz telah memiliki reputasi yg tinggi dalam kekhalifahan Islam zaman itu. Di zaman itu juga, keputusan khalifah u/ memperluas masjid Nabawi & memperluas rumah Baginda Rasulullah SAW dirilis. Said Al Musayyib sambil meneteskan air mata berkata, “Sungguh aku berharap supaya rumah Bainda Rasulullah SAW apa adanya supaya generasi Islam di masa depan mengetahui bahwah sungguh kehidupan Baginda Rasulullah SAW itu sederhana”.

Sidang jemaah yg direstui Allah SWT,

Umar bin Abdul Aziz sangat dekat dengan Sulaiman bin Abdul Malik. Mereka adalah sepupu langsung. Zaman pemerintahan Sulaiman bin Abdul Malik, dunia dinaungi pemerintahan Islam, dinasti Bani Umayyah kukuh & stabil. Sulaiman bin Abdul Malik mengajar Umar bin Abdul Aziz ke markas pasukan dinasti Bani Umayyah.

Sulaiman bin Abdul Malik: “Apa yg anda lihat wahai Umar bin Abdul Aziz?”
Umar bin Abdul Aziz: “Saya sedang lihat dunia itu sedang makan antara satu sama lain. Anda orang yg paling tanggung jawab & diaudit Allah SWT tentangnya”
Sulaiman bin Abdul Aziz: “Anda tidak kagum dengan pemerintahan ini?”
Umar bin Abdul Aziz: “Bahkan yg lebih hebat lagi adalah orang yg mengenal Allah SWT kemudian durhaka kehadirat Allah SWT, mengenali setan kemudian mematuhinya kemudian condong kepada dunia”

Firman Allah SWT surah Al A’la #16 & #17: #16 “Sedangkan kamu memlih kehidupan dunia” #17 “Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik & lebih kekal”

Sidang jemaah yg direstui Allah SWT,

Menjelang wafatnya Sulaiman bin Abdul Malik, penasihat kerajaan bernama Raja’ bin Haiwah menasihati Sulaiman bin Abdul Malik. Raja’ bin Haiwah berkata, “Wahai Amirul Mu’minin, si antara perkara yg menyebabkan anda di jaga di alam kubur & memperoleh syafaat dari Allah SWT di hari kiamat yakni bila anda tinggalkan u/ Islam khalifah yg adil, siapakah pilihan anda?” Sulaiman bin Abdul Malik menjawab, “Umar bin Abdul Aziz”. Surat wasiat tertulis nama Umar bin Abdul Aziz sebagai calon khalifah pengganti Sulaiman bin Abdul Aziz. Sulaiman bin Abdul Aziz memerintahkan mentri, gubernur, kerajaan supaya melantik Umar bin Abdul Aziz.

Umat Islam berkumpul di masjid. Raja’ bin Haiwah mengumumkan, “Bangunlah wahai Umar bin Abdul Aziz, sungguh nama anda tertulis di surat ini”. Umar bin Abdul Aziz bangkit seraya berkata, “Wahai manusia, sungguh jabatan ini diberikan kepadaku tanpa musyawarah dulu denganku & saya tidak memintanya. Sungguh saya mencabut bai’at di leher anda. Pilihlah siapa yg anda kehendaki”

Para jemaah Jumat yg diberkahi & direstui Allah SWT,

Umar bin Abdul Aziz menyampaikan pidato pertamanya setelah baru saja dilantik menjadi khalifah. Di penghulu pidatonya, Umar bin Abdul Aziz menyampaikan, “Wahai manusia, tiada lagi nabi setelah Baginda Rasulullah SAW & tiada lagi kitab suci setelah Al Quran. Saya bukan penentu hukum tapi saya mandatoris hukum Allah SWT. Saya bukan ahli bid’ah tapi saya ahli sunnah. Saya bukan orang yg terbaik di antara anda tapi saya orang yg paling berat tanggung jawabnya di antara anda karna saya orang yg paling banyak dosanya di sisi Allah SWT”. Umar bin Abdul Aziz duduk & menangis, “Betapa beratnya ujian Allah SWT u/ku”. Istrinya menegur Umar bin Abdul Aziz tiba di rumah, “Mengapa Amirul mu’minin menangis?”. Amirul mu’minin menjawab, “Wahai istriku, saya telah diuji oleh Allah SWT dengan jabatan ini. Saya ingat orang fakir miskin, janda, banyak anak, rezekinya sedikit, banyak orang tawanan. Saya tau mereka akan sidang saya di hari kiamat. Saya takut saya tidak bisa tanggung jawab di hadapan mereka, yg menjadi pembela di hari kiamat adalah Baginda Rasulullah SAW”. Istrinya juga menangis. Raja Sriwijaya menulis surat ke Umar bin Abdul Aziz. Raja Sriwijaya mengirim hadiah tanda persahabatan. Raja Sriwijaya ingin orang yg bisa mengajarkan syariat Islam kepadanya.

Firman Allah SWT surah An Nahl #90: “Sungguh Allah SWT menyuruh kamu berbuat adil, ihsan, memberi kepada kaum kerabat & melarang kamu berbuat keji, ingkar, permusuhan. Dia memberi I’tibar kepada kamu supaya kamu mengambil I’tibar”

Ayat ini adalah penutup Khutbah Jumat yg sudah berlaku sejak zaman Umar bin Abdul Aziz. Zaman itu adalah zaman politik & propaganda. Mimbar Jumat dimanfaatkan sebagai ajang politik.

Sidang jemaah yg direstui Allah SWT,

Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah di usia 37 tahun menggantikan Sulaiman bin Abdul Malik. Umar bin Abdul Aziz dilantik menjadi khalifah setelah Jumatan. Setelah Ashar, rakyat langsung merasakan perubahan kebijakan khalifah yg baru. Zaman pemerintahan Umar bin Abdul Aziz berhasil memulihkan keadaan negaranya. Gajinya 2 dirham saban hari atau 60 dirham saban bulan. 1 dirham itu Rp 3.500 zaman sekarang. 60 dirham itu sekitar Rp 210.000 bila di zaman sekarang. Zaman sekarang gaji segitu tidak cukup u/ hidup di Jakarta. Zaman Umar bin Abdul Aziz itu cukup. Ahli sejarah menjuluki Umar bin Abdul Aziz sebagai khalifah #5. Zaman pemerintahan Umar bin Abdul Aziz berlaku selama 3 tahun tahun 717-720. Umar bin Abdul Aziz menghembuskan nafas terakhir tahun 720 karna diracun pembantunya.

Bila Umar bin Abdul Aziz ditanya, “Wahai Amirul mu’minin, apakah anda tidak mau meninggalkan wasiat u/ anak”mu?” Umar bin Abdul Aziz berkata, “Apa yg mau saya wasiatkan? Saya tidak punya apa” ”. Ada yg bertanya, “Mengapa anda tinggalkan anak” anda dalam keadaan tidak memiliki?”. Umar bin Abdul Aziz berkata, “Bila anak”ku anak yg sholeh, Allah SWT yg mengurus orang yg sholeh, saya tidak mau meninggalkan hartaku di tangan orang yg durhaka kehadirat Allah SWT”. Umar bin Abdul Aziz memanggil anak”nya, “Wahai anak”ku, sungguh ayah telah diberikan 2 pilihan, yakni membuat kalian kaya & kalian masuk neraka, kalian miskin & masuk surga. Sungguh ayah telah memilih surga”.

Sabda Baginda Rasulullah SAW: “Setiap kamu adalah pemimpin. Setiap pemimpin akan diminta tanggung jawabnya. Imam adalah pemimpin & akan diminta tanggung jawabnya”

Firman Allah SWT surah Al Kahfi #9 & #10: #9 “Apakah kamu mengira orang yg tinggal di gua & yg mempunyai Ar Raqim itu tanda” keagungan Kami yg menakjubkan?” #10 Ingatlah ketika pemuda itu berlindung dalam gua & berdoa, “Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kami rahmat dari sisiMu & sempurnakan petunjuk yg lurus dalam urusan kami”

“fa’tabiruu yaa ulil albab”

Khutbah #2

Zumrotal mu’minin wal muslimin hafizhakumullah,

Saban hari Allah SWT memanggil hambanya u/ kembali keharibaanNya. Saban hari manusia dalam kerugian. Tahun 1437 Hijriyah tidak terasa akan segera menutup tirainya. Detik demi detik, hari demi hari, minggu demi minggu, bahkan tahun demi tahun telah berlalu dengan cepatnya. Banyak saudara, keluarga, teman”, rekan sejawat kita yg telah tiada di tahun 1437 Hijriyah atau tahun 2016. Mungkin besok atau lusa tiba ajal kita, mungkin bulan depan, mungkin tahun depan. Saban hari usia kita bertambah, jatah usia kita berkurang, semakin kita dekat dengan kematian. Kita tidak tau kapan kita akan menghembuskan nafas terakhir. Setiap yg bernyawa pasti mati. Setiap yg bernyawa pasti akan menghembuskan nafas terakhir. Jangan terpedaya dengan nikmat sehat karna syarat mati tidak harus sakit. Jangan terpedaya dengan zaman muda karna syarat mati tidak harus tua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar